5 Teori Bodoh Yang Terlanjur 'Mendarah Daging' Dipercaya Masyarakat


Di era internet, informasi bisa dengan mudah kita dapatkan dengan tingkatan akurasi yang luar biasa. Namun di era sebelum internet, informasi kebanyakan kita peroleh dari guru kita di sekolah, yang mendapatkan informasi tersebut dari silabus yang dipakai turun temurun dari generasi ke generasi. Tentu hal tersebut belum tentu menjamin kebenaran informasi seperti sekarang.

Terlebih lagi jika kita di Indonesia, mitos dan fakta adalah hal yang kabur. Seringkali orang masih mempercayai mitos ketimbang fakta. Terlebih lagi, sebuah gagasan yang sebenarnya hanyalah mitos belaka, dianggap sebagai teori yang sahih.

Dengan demikian terjadi banyak miskonsepsi antara bagaimana sebuah teori dipercaya oleh masyarakat sebagai kebenaran.

Berikut beberapa teori bodoh yang terlanjur 'mendarah daging' dipercaya masyarakat.

1. Bunglon berubah warna untuk menyamakan diri dengan lingkungan


Tentu Anda pernah mempelajari ilmu alam di sekolah, dan tak mungkin Anda belum diajari soal bunglon yang bisa berubah warna. Dalam hal ini Anda diajarkan bahwa bunglon akan mengubah warna kulit sesuai dengan lingkungan. Anda juga akan diajarkan bahwa hal ini merupakan teknik kamuflase yang ditujukan agar ia aman dari predator.

Dalam hal ini, informasi ini tak sepenuhnya salah tapi terdapat informasi yang 'melenceng.'

Kulit bunglon memang mempunyai lapisan yang memiliki rentang pigmen yang sangat banyak, di mana lapisan tersebut melapisi sel yang mengandung senyawa bernama kristal guanin. Perubahan warna pada bunglon ini sebenarnya terjadi akibat penyesuaian ruang antara kristal guanin, yang menyebabkan perubahan panjang gelombang cahaya yang memantul dari kulit bunglon.

Itulah mengapa informasi soal kamuflase mungkin sedikit melenceng, karena bunglon mungkin memakai kemampuannya untuk berkamuflase. Namun sebenarnya kemampuan ini lebih berguna untuk bunglon memberi sinyal reaksi sosial. Selain itu, hal tersebut merupakan reaksi dari berubahnya temperatur. Oleh karena itu, sebenarnya bunglon hanya mengubah warnanya sebagai respons dari paparan cahaya, suhu, serta suasana hatinya. Sehingga ini merupakan kondisi 
psikologis, bukan pertahanan diri.

2. Anak kecil yang kelebihan gula akan hiperaktif


Banyak orang tua di luar sana tentu percaya jika anak kecil yang hiperaktif berarti ia kelebihan gula, atau sebaliknya. Padahal hal ini tidak benar. Berkat sejarah dan berbagai tradisi di berbagai belahan Bumi, kita suka menyalahkan makanan dan minuman yang kaya gula atas hiperaktivitas anak.

Meski demikian, para ilmuwan tak menemukan adanya hubungan antara gula dan hiperaktifnya anak-anak. Ilmuwan sendiri banyak melakukan eksperimen kepada kelompok anak-anak pra sekolah atas hal ini. Hasilnya pun menyebutkan tak ada hubungan tersebut. Jadi penyebab hiperaktifnya anak bukan gula, namun jangan beri makan anak-anak kecil dengan banyak permen dan minuman manis terlalu banyak.

3. Ada 5 panca indera


Tentu semua orang sudah tahu bahwa kita semua memiliki 5 panca indera, yang meliputi penciuman, peraba, pengecap, penglihatan, dan pendengaran. Tentu hal ini sudah kuno, dan merupakan kesalahpahaman yang mendarah daging untuk percaya hal ini.

Benar, panca indera punya definisi yang lebih lebar lagi. Sebuah indera, didefinisikan sebagai ranah fisiologis yang memungkinkan manusia untuk memahami rangsangan. Secara teknis, Jessica Cerratini dari Harvard Medicine mengungkapkan bahwa indera adalah sistem tubuh yang terdiri dari sekelompok sel sensorik yang tidak hanya merespon fenomena fisik tertentu, namun sel sensorik ini juga sesuai dengan beberapa bagian tertentu di otak.

Hal ini membuat definisi indera menjadi lebih luas sekaligus juga spesifik. Oleh karena itu, sebenarnya masih banyak indera lain yang dimiliki oleh tubuh kita. berbagai hal seperti keseimbangan, thermoception, proprioception (persepsi kita terhadap posisi tubuh), dan nociception (persepsi terhadap rasa sakit)), merupakan indera.

4. Kita hanya memakai 10 persen dari otak kita


Hal ini adalah teori yang cukup luas dipercaya. Untuk percaya akan hal ini pun cukup masuk akal, mengingat betapa rumitnya keadaan otak kita. Bahkan jika seseorang bisa memanfaatkan 90 persen dari sisa kemampuan otak, seseorang akan memiliki memori super, bahkan kekuatan super seperti telekinesis. Hal ini bahkan diabadikan jadi sebuah film berjudul 'Lucy.'

Meski demikian, hal ini adalah hal yang tak dipercaya para ahli saraf. Mereka sangat yakin bahwa lebih dari 10 persen otak manusia digunakan untuk berbagai aktivitas manusia sehari-hari. Sebenarnya, bahkan berapa persen pemanfaatan otak manusia bukan hal yang jadi perhatian dan disebut terus-menerus.

Yang jelas, kompleksitas otak merupakan hal yang nyata. Berbagai hal seperti kemampuan untuk melakukan jutaan perilaku, bagaimana otak membentuk perasaan, ingatan, dan kesadaran diri, semua tentu rumit. Atas hal ini, tentu ilmuwan masih belum mengungkap banyak misteri.

5. Ikan Mas memiliki ingatan hanya 3 detik


Kita semua tahu bahwa ikan mas melupakan semua ingatannya hanya dalam tiga detik saja. Kepercayaan masyarakat tumbuh seakan-akan hal tersebut sebuah pengetahuan biologis ini. Padahal nyatanya, itu adalah miskonsepsi yang salah besar. Hal ini diduga muncul dari para pemelihara ikan agar tak merasa bersalah untuk menaruhnya di toples kaca berisi air setiap saat.

Kebalikan dari teori ini, para ilmuwan justru menyebut bahwa ikan mas adalah ikan yang mampu merespon berbagai jenis musik, warna, serta isyarat sensorik lain. Hal ini pun akan diingat setiap saat ketika ia hidup. Salah satu ilmuwan asal Israeli Technion Institute of Technology bahkan bisa melatih ikan mas untuk merespon suara ketika sudah masuk waktu makan. Hal ini sangat bertentangan dengan kepercayaan di mana ikan mas hanya ingat 3 detik kejadian terakhir dalam hidupnya.


Sumber : merdeka.com

Comments
0 Comments

No comments